• "Be Yourself Even You're Nobody"
    Blogger Widgets

    Catatan Tanpa Judul


    Sahabat adalah kebutuhan jiwa yang mendapat imbangan
    Dialah ladang hati yang dengan kasih kau taburi dan kau pungut buahnya penuh rasa terima kasih
    Dia pulalah naungan sejuk keteduhanmu
    Sebuah pendiangan demi kehangatan sukmamu
    Karena kau menghampirinya di kala hati gersang kelaparan,
    Dan mencarinya di kala jiwa membutuhkan kedamaian

    Sepenggal syair Kahlil Gibran yang tiba-tiba muncul di kepala saat seorang sahabat lama menyapa penuh rindu dari sana. Keriangan yang tercipta dari celotehan ramai ditingkahi tawa seperti memenuhi rongga dada. Hampir lima belas tahun kami tak pernah bersua dan saling kehilangan jejak, tapi ternyata Allah memiliki cara lain untuk mempertemukan kembali kami yang selama ini telah kehilangan komunikasi. Ya Rabb, terima kasih atas karuniamu hari ini …

    Cerita lama, cerita baru dan kisah-kisah di saat kami saling mencari keberadaan yang lain mengalir tanpa henti. Tak peduli lagi dengan pulsa interlokal, dua jam setengah kami berkicau dan kembali saling teriak dengan panggilan saat masih sekolah dulu. Ada tawa bahkan juga air mata mengalir menyimak saat-saat sang sahabat kehilangan orang-orang tercintanya, ibunda, kakak dan putra bungsu terkasih. Ya, saat-saat dimana saya seharusnya berada di sisinya. Ada sesal menyelinap di sudut hati.

    Sebenarnya kerinduan belum terpuaskan tetapi obrolan terpaksa disudahi dahulu dengan saling bertukar nomer ponsel dan janji akan terus saling berkirim kabar. Masih terbayang wajah ibundanya yang selalu ‘memaksa’ makan siang setiap saya berkunjung ke kantin besar miliknya di sebuah universitas di Bandung. Padahal saat itu ibu sedang sibuk sekali. Mungkin kasihan melihat wajah anak kos yang kelaparan dan ibu kelihatannya paham betul aji mumpung saya, sengaja datang berkunjung waktu makan siang.

    Lima belas tahun bukan sebuah waktu yang singkat, orang bisa berubah menjadi lebih baik atau sebaliknya. Ada yang karena pengaruh kedudukan dan jabatan menjadi amat berubah dari yang kita kenal sebelumnya. Untungnya kami sama-sama masih seperti yang dulu, mungkin saja karena kami berdua memang bukan siapa-siapa. Tak ada kedudukan dan jabatan yang mengundang decak kagum, yang berubah adalah kini kami bukan lagi anak muda tetapi sudah menjadi seorang ibu dan kami sama-sama bangga karenanya.

    Dinamika persahabatan seperti kumpulan warna pelangi, ada saat terang dan ada saat gelap yang memberi warna tersendiri pada keindahan persahabatan itu. Indahnya bagai rasa saat menikmati mekarnya bunga lotus merah jambu di temaram senja.

    Sahabat bisa dipersatukan dengan adanya satu atau lebih persamaan. Idealnya, ia adalah seseorang yang membawa kita lebih dekat kepada kebaikan, yang bisa bersama tertunduk syukur atas nikmat karunia, tertawa atau menangis bersama dan saling menguatkan ketika salah satu sedang dalam keadaan lemah. Juga seseorang yang bersedia mengingatkan bahkan menyentil saat yang lain alpa dan melenceng dari jalanNya. Patut disayangkan ada pula persahabatan yang justru mendorong kepada kemunduran. Melihat kesuksesan yang diraih orang lain malah jadi bersekutu untuk curiga. Tak bisa diam ketika pencapaian seseorang melebihi apa yang telah mereka capai atau malah bersatu untuk menjatuhkan orang lain. Alangkah sayangnya energi terbuang sia-sia untuk hal-hal yang tak bermanfaat seperti itu, yang membawa kita justru semakin jauh dari tujuan hidup.

    Tak dapat dipungkiri terdapat hubungan simbiosis mutualisme atau saling menguntungkan di dalam persahabatan tetapi ada pula pelajaran di dalamnya yaitu belajar memberi dan menerima (take and give), belajar mendengar dan didengar, juga belajar mengikis ego dan menjaga empati.

    Saling menghargai privacy sahabat termasuk kiat awetnya hubungan, ibarat buku ada lembaran-lembaran yang tak perlu dibaca dan dibuka dengan jelas tanpa perkenannya. Sahabat yang baik hafal betul saat kuncup dan mekarnya kita. Diantara indikator persahabatan yang sehat adalah persahabatan yang tidak membuat kita menutup diri terhadap pergaulan dengan orang lain, yang tetap bisa menjaga obyektifitasnya, yang bernuansa kejujuran, yang membawa rasa nyaman dan yang tak perlu memaksa kita terus menerus menggunakan topeng.

    Pepatah bilang mencari musuh lebih mudah daripada menemukan sahabat. Saat kita bertengkar berbeda pendapat seperti ada sebagian yang hilang dalam diri. Padahal bersahabat bukan berarti selalu sepakat. Ada perbedaan-perbedaan yang membuatnya bervariasi, yang lebih penting adalah bagaimana saling memahami dan menghargai perbedaan tersebut.

    Satu kisah yang lain, sayapun pernah mendapat sebuah pelajaran berharga bagaimana persahabatan bisa rusak oleh emosi sesaat dan kesalahpahaman. Ketika kita tiba pada suatu fase penuh kesadaran bahwa itu semua hanyalah bagian dari masa muda yang penuh dinamika, sahabat itu telah hilang tak tentu rimbanya. Sempat terdengar kabar ia telah berada nun jauh di pulau sana. Sujud pasrah pada Ilahi karena telah memutuskan silaturahmi tanpa tahu bagaimana menyambungnya kembali.

    Sekali lagi Sang Khalik berkehendak, segala sesuatu yang tak mungkin menjadi mungkin. Berkat situs jejaring sosial kami terhubung kembali setelah bertahun-tahun tak bertemu. Kata maaf atas segala khilaf adalah yang pertama terucap saat ia menyambut salam saya. Syukurlah kami saling memaafkan. Rupanya tahun-tahun yang hilang tersebut telah mendewasakan kami berdua. Kepada sahabat dimaksud yang mungkin kebetulan membaca tulisan ini, semoga anda dan keluarga selalu dalam berkah ridhoNya.

    0 Tanggapan :

    Posting Komentar